Translate

Kimia Medisinal

Pengantar Kimia Medisinal 

Definisi

  • Burger (1970) 

Kimia Medisinal adalah ilmu pengetahuan yg merupakan cabang ilmu kimia & biologi yang digunakan untuk memahami mekanisme kerja obat. Sebagai dasar adalah dengan menetapkan hubungan struktur kimia dg aktivitas biologis obat, serta melibatkan perilaku biodinamik melalui sifat fisik & kereaktifan kimia senyawa obat. 

  • Taylor & Kennewell (1981) 

Kimia Medisinal merupakan studi kimiawi senyawa atau obat yg memberikan efek menguntungkan dalam sistem kehidupan, & melibatkan studi hubungan struktur kimia senyawa dengan aktivitas biologis serta mekanisme cara kerja senyawa pada sistem biologi dalam usaha mendapatkan efek pengobatan yang maksimal & memperkecil efek samping yang merugika

  • IUPAC (1974) 

Kimia Medisinal merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari penemuan, pengembangan, identifikasi & interpretasi cara kerja senyawa biologis aktif obat pada tingkat molekul. 

Ilmu yg mempelajari hubungan struktur kimia suatu senyawa atau obat dengan aktivitas bilogisnya.

 Ruang Lingkup

  • Isolasi & identifikasi senyawa yg secara empirik telah digunakan untuk pengobatan. 
  • Sintesis struktur analog. 
  • Sintesis struktur induk baru. 
  • Mencari hubungan struktur kimia dengan aktivitas biologis obat. 
  • Mengembangkan rancangan obat. 
  • Mengembangkan hubungan struktur kimia dengan aktivitas biologis obat melalui sifat kimia fisika dan bantuan statistik

Obat Berdasarkan Sumbernya

  • Alamiah

Obat yang terdapat di alam, yaitu pada tanaman (kuinin, atropin), pada hewan (minyak ikan, hormon), mineral (S, KBr)

  • Semisintetik

Obat sintesis yang bahan dasarnya dari alam. Contohnya: morfin ->  kodein 

  • Sintetik murni

Obat yang bahan dasarnya tidak berkhasiat, setelah disintesis akan didapat senyawa berkhasiat. Contoh: analgetik-antipiretik, antihistamin, diuretik

Daftar Obat Esensial (WHO, 1985)

  1. Sintesis kimia (48,9 %)
  2. Semisintetik ( 9,5 %)
  3. Mikroorganisme ( 6,4 %) 
  4. Vaksin ( 4,3 %) 
  5. Sera ( 2,0 %) 
  6. Mineral ( 9,1 %) 
  7. Tumbuh-tumbuhan ( 11,1 %)
  8. Hewan ( 8,7 % )

Gugus Fungsional - Aktivitas Biologis

  • Struktur kimia obat dapat menjelaskan sifat-sifat obat dan aktivitas biologisnya.
  • Untuk mencari hubungan dapat mengaitkan antara struktur dan aktivitas. 
  • Macam-macam senyawa:
    • Gugs fungsional sama, aktivitas biologis sama 

contoh: der. Fenol (fenol, kresol, eugenol, timol), der. Sulfonamid (sulfanilamid, sulfasetamid, sulfaguanidin) 

    • Gugus fungsional berbeda, aktivitas biologis sama 

contoh: anestetik sistemik (eter, sikloporpan, halotan), diuretik (klormerodin, asetozalamid, hidroklortiazid

Gugus dan Aktivitas Sama







Gugus Berbeda, Aktivitas Sama



Pengembangan Obat Baru

  • Percobaan Kimia Pertama 
  • Penapisan farmakologi 
  • Uji toksisitas akut 
  • Studi percobaan farmakologi yg lebih luas Uji toksisitas kronik & uji klinik  
 

Rancangan Obat

  • Proses elaborasi sistematik
  • Mengembangkan obat yg sudah ada
  • Obat efek optimal & efek samping minimal
  • Manipulasi molekul


Pencarian Senyawa Aktif

  • Pencarian Senyawa Penuntun 
  • Modifikasi Molekul 
  • HKSA 
  • Analisa Statistik 

Senyawa Penuntun (Dead Compound, Parent compound)


Modifikasi Molekul
  • Efek lebih poten 
  • ESO minimal 
  • Spektrum lebih spesifik 
  • Spektrum lebih luas 
  • Aktivitas baru 
  • Profil farmakokinetik lebih baik. 

Modifikasi Molekul
  • Seri senyawa homolog (perpanjangan rantai) 
  • Modifikasi substituen 
  • Penyederhanaan struktur 
  • Pemisahan senyawa isomer 

Rancangan Obat
  • Mekanisme kerja & sisi kerja obat pada tingkat molekul & elektrik. 
  • Hubungan kuantitatif & kualitatif struktur obat dengan aktifitas biologisnya. 
  • Reseptor obat & topografi tiga dimensi. 
  • Model interaksi obat reseptor 
  • Efek farmakologis dari gugus spesifik
  • Hubungan parameter sifat kimia fisika dengan aktivitas biologisnya. 
  • Mekanisme reaksi kimia dan biokimia 
  • Biosintesis metabolit & konstituen lain dalam organisme hidup. 
  • Perbedaan sitologis & biokimia manusia & parasit 

Peranan Farmakoekonomi dalam  Penentuan Kebijakan yang Berkaitan dengan Obat-Obatan

Raymond R. Tjandrawinata Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Department of Medical Affairs dan Business Development Dexa Medica Group, Jakarta, Indonesia


Pendahuluan 

            Disiplin ilmu farmakoekonomi belakangan ini mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Ini utamanya terjadi di negara-negara dimana penggantian biaya obat diatur secara ketat di sektor publik maupun swasta. Ide farmakoekonomi lahir dari prinsip inti ekonomi: sumberdaya yang langka dan seringkali makin berkurang memaksa orang untuk menghadirkan produk berkualitas tinggi dengan biaya seminimal mungkin. Analisa ekonomi telah digunakan oleh para pengambil keputusan dalam komunitas perawatan kesehatan di banyak negara selama bertahun-tahun (1). Karena banyak negara telah mengalami peningkatan biaya perawatan kesehatan yang cepat selama tiga dekade terakhir, tidaklah mengejutkan bahwa ekonomi dan alokasi yang tepat dari sumberdaya kesehatan telah berkembang menjadi agenda penting dalam menentukan anggaran nasional. Dengan tujuan menyediakan layanan berkualitas tinggi, banyak pengambil keputusan telah mempelajari pemanfaatan layanan perawatan kesehatan mereka, yang mencakup farmasi, untuk menentukan biaya dan nilai barang dan jasa perawatan kesehatan. 

      Ilmu farmakoekonomi telah berkembang menjadi disiplin penting dalam subyek ekonomi kesehatan. Farmakoekonomi didefinisikan sebagai deskripsi dan Analisa biaya terapi pengobatan terhadap sistem perawatan kesehatan dan masyarakat. Riset farmakoekonomi berkaitan dengan identifikasi, pengukuran, dan perbandingan biaya dan manfaat produk dan jasa farmasi (2). Analisa farmakoekonomi tidak hanya terbatas pada pengukuran moneter atau klinis. Analisa ini juga bisa memanfaatkan sejumlah faktor yang membuka biaya alternatif-alternatif dari perspektif pasien seperti akan dijelaskan lebih lanjut dalam tulisan ini. Faktor-faktor tersebut mencakup kehidupan (nyawa) yang berhasil diselamatkan, pencegahan penyakit, operasi yang berhasil dicegah, atau kualitas hidup (QOL, quality-of-life) yang berkaitan dengan kesehatan. Dengan demikian, tujuan farmakoekonomi adalah untuk memperbaiki kesehatan individu dan publik, serta memperbaiki proses pengambilan keputusan dalam memilih nilai relatif diantara terapi-terapi alternatif (3). Jika digunakan secara tepat, data farmakoekonomi memungkinkan penggunanya mengambil keputusan yang lebih rasional dalam proses pemilihan terapi, pemilihan pengobatan, dan alokasi sumberdaya sistem. Dalam kaitannya dengan hal ini, penggunanya bisa dari berbagai kalangan: pengambil keputusan klinis dan administratif, termasuk dokter, apoteker, anggota komite formularium, dan administrator perusahaan asuransi. 

         Seperti halnya di negara lain, Indonesia telah mengalami peningkatan biaya perawatan kesehatan, khususnya biaya farmasi untuk obat-obatan yang masih ada didalam masa paten. Dengan tekanan yang terus-menerus terhadap meningkatnya biaya perawatan kesehatan dari kalangan publik dan swasta, intervensi lebih lanjut akan secara rutin dievaluasi secara farmakoekonomi dengan menghubungkan keuntungan dan hasilnya terhadap biaya yang dikeluarkan. Ini khususnya dilakukan oleh para pengambil keputusan sistem formularium nasional di asuransi kesehatan nasional Indonesia yang disebut Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) (4,5). Dalam kaitannya dengan hal ini, kita bisa berharap bahwa studi farmakoekonomi akan dilakukan secara lebih rutin di Indonesia di masa mendatang, karena alasan-alasan berikut:

  1. Tekanan politik. Industri asuransi kesehatan nasional harus menyadari bahwa pemenuhan biaya farmasi haruslah merupakan bagian dari setiap keputusan mengenai keuntungan obat-obatan tak peduli bagaimanapun desain sistem perawatan kesehatannya. 
  2. Tekanan regulasi. Sejumlah negara telah mengusulkan proposal yang menyebutkan bahwa riset farmakoekonomi akan disertakan sebagai bagian dari pengembangan obat-obatan. Saat ini, hanya Australia dan Kanada yang telah mengembangkan panduan evaluasi farmakoekonomi terhadap obat-obatan yang akan ditempatkan dalam formularium nasional (7). US Federal Drug Administration-USFDA (7) dan Badan Pengawas Obat dan makanan Republik Indonesia (BPOM) tidak mengembangkan panduan yang berkaitan dengan penggunaan data farmakoekonomi dalam pengembangan obat-obatan. 
  3. Rumah sakit. Institusi ini bisa menggunakan data farmakoekonomi untuk menentukan obat-obatan yang akan ditempatkan dalam daftar obat-obatan yang mereka setujui dan memutuskan terapi-terapi alternatifnya.
  4. Industri asuransi kesehatan. Seperti halnya rumah sakit, institusi ini juga memanfaatkan data farmakoekonomi untuk menentukan obat-obatan pada formulary-nya. 
  5. Bagian pemasaran farmasi. Studi farmakoekonomi bisa secara luas digunakan oleh organisasi-organisasi ini sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka untuk mendukung klaim bahwa produk mereka cost-effective.
Evaluasi ekonomi selalu melibatkan analisa komparatif dari tindakan alternatifnya

        Ada dua parameter yang menentukan setiap analisa ekonomi (termasuk jasa kesehatan) (8). Pertama, dalam hubungannya dengan pilihan sebagai konsekuensi keterbatasan sumberdaya dan ketidakmampuan kita untuk memproduksi semua output yang diinginkan; dan kedua, dalam hubungannya dengan input dan output, terkait dengan biaya dan konsekuensi, dari aktivitas. Tugas dasar farmakoekonomi adalah mirip dengan Analisa ekonomi, seperti mengidentifikasi, mengukur, menilai, dan membandingkan biaya produk farmasi dan konsekuensi (hasil) alternatif yang dipilih. Setiap data farmakoekonomi akan menyediakan Analisa biaya dibanding hasil yang didapat. Gambar 1 menjelaskan sebuah model farmakoekonomi sederhana. Dalam model ini, kita harus mengambil keputusan apakah akan memilih Obat A, atau pembandingnya, Obat B. Dalam melakukannya, sebuah Analisa biaya terhadap masing-masing obat dan hasilnya harus dibuat untuk memberikan keputusan yang rasional. Riset farmakoekonomi harus terlebih dulu menentukan biaya dan hasil yang diperkirakan, serta Analisa mengenai bagaimana studi akan dilakukan dan diukur.

Gambar 2. Model yang menjelaskan evaluasi ekonomi terhadap farmasi. 

Determinasi Biaya dan Pengaturan Diskonto 
            Biaya dihitung untuk memperkirakan sumberdaya yang digunakan dalam memproduksi suatu hasil. Ada tiga tipe biaya: langsung, tak langsung, dan biaya tak ternilai. Biaya medis langsung adalah biaya apapun yang terkait degan pencegahan, pendeteksian, atau penanganan suatu penyakit. Contoh biaya langsung adalah: produk dan jasa farmasi, layanan dokter, perawatan, uji laboratorium, dsb. Biaya non-medis langsung adalah biaya yang berhubungan dengan penerimaan produk dan jasa. Contohnya mencakup transportasi, ruangan, dsb. Biaya tak langsung adalah biaya yang berhubungan dengan sakit dan/atau kematian contoh biaya tak langsung adalah biaya hilangnya produktivitas, bantuan keluarga, serta peralatan dan perawatannya. Biaya tak ternilai adalah biaya-biaya yang muncul karena hilangnya produktivitas. Contohnya adalah biaya yang berkaitan dengan sakit, penderitaan, kecemasan, dan dukacita. Biaya tak ternilai tidak dikonversi menjadi suatu nilai, namun biasanya diekspresikan dalam istilah quality-adjusted-life-years seperti akan dijelaskan selanjutnya.

            Pertimbangan biaya penting lainnya adalah biaya rata-rata dan biaya marjinal (1). Biaya rata-rata adalah biaya-biaya yang telah dikalkulasi dengan membagi total biaya dengan unit hasil. Biaya marjinal (inkremental), sebaliknya, didefinisikan sebagai biaya memproduksi tambahan unit hasil. 

        Secara teoritis, perbandingan biaya dilakukan pada satu titik waktu. Penghitungan diskonto (discounting), atau penyesuaian untuk waktu yang berbeda, merupakan proses pengurangan biaya dan manfaat masa depan kembali ke nilainya saat ini (9). Sebagian orang lebih suka menerima uang sekarang dibanding nanti. Sehingga, Rp. 1.000.000,- hari ini lebih berharga dibandingkan Rp. 1.000.000,- tahun depan. Ketika sebuah perawatan berlangsung lebih dari satu tahun, uang harus diukur menggunakan nilainya sekarang (PV, present value). Itulah yang disebut penghitungan diskonto. Menggunakan sebuah tingkat diskonto (interest, bunga), perkiraan time value of money (nilai uang berdasarkan waktunya) bisa dihitung. Formula berikut dipinjam dari ilmu manajemen finansial untuk mengkalkulasi nilai uang berdasarkan waktu (time value of money): 


Dimana: 
PV = nilai saat ini 
FVn = nilai masa depan pada tahun ke n 
r = tingkat diskonto (bunga) 
n = jumlah tahun setelah munculnya biaya 

        Sebagai contoh, jika sebuah penanganan membutuhkan biaya Rp. 500.000 per tahun selama hingga 3 tahun mendatang dan nilai uang berubah sebesar sekitar 12% per tahun, maka nilai saat ini dari biaya-biaya ini adalah Rp. 1.345.027,- yang didapat dari [500 + (500/1,12) + (500/1,122)]. 

        Memilih tingkat diskonto haruslah berhati-hati, karena angka ini sendiri bisa menjadi sumber kontroversi. Penggunaan tingkat diskonto yang sangat rendah atau sangat tinggi akan menguntungkan proyek tertentu dan bisa mendorong munculnya kesimpulan yang berbeda. Untuk meminimalkan variasi yang besar dalam biaya dan hasilnya, bisa dilakukan Analisa sensitivitas untuk menentukan efek selang tingkat diskonto pada sebuah studi individual (3,7). Analisa sensitivitas digunakan untuk menguji apakah kesimpulan dari sebuah evaluasi farmakoekonomi berubah ketika masing-masing variabel input diperiksa dalam suatu selang nilai yang dapat diperkirakan. Jika kesimpulannya bisa didukung melalui Analisa sensitivitas, berarti peluang kesimpulan tersebut bisa diterima menjadi lebih tinggi. Namun, jika kesimpulannya berubah, harus dilakukan penyesuaian untuk menentukan nilai sesungguhnya dari variabel yang dimaksud, atau untuk menyatakan secara eksplisit bahwa kesimpulan tersebut “sensitif” terhadap nilai dari variabel tersebut (2).  

Pengukuran Hasil Terapi 

            Dalam merancang sebuah studi farmakoekonomi, periset harus terlebih dulu menentukan semua kemungkinan hasilnya, termasuk yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Hasilnya bisa intermediate (hasil jangka pendek), seperti pengontrolan tekanan darah, atau final (hasil jangka panjang), seperti pencegahan kegagalan ginjal, serangan jantung, stroke, infeksi sistemik, dsb. Dalam banyak kondisi penyakit, hubungan antara hasil intermediate dan hasil final belum ditentukan. Dalam hal ini, hasil final, seperti pengurangan tingkat kematian, harus ditentukan untuk Analisa. Namun, jika data sakit dan kematian tidak tersedia, peneliti bisa menggunakan indikator kualitas hidup (quality-of-life) sebagai gantinya (7). Idealnya, pengukuran hasil jangka pendek dan jangka panjang harus diidentifikasikan sehingga efek produk atau jasa yang dipelajari bisa ditentukan secara lebih akurat. Seperti akan dijelaskan nanti, nilai hasil-hasil ini diukur dalam sebuah nilai moneter atau dalam sebuah unit natural dari efektivitas atau kegunaan, tergantung dari studi farmakoekonomi yang dilakukan. Ketika mengukur hasil terapi, sangat penting untuk membedakan antara efikasi (efficacy) dan efektivitas. Dalam istilah farmakoekonomi, efikasi merujuk pada hasil sebuah obat tertentu dalam kondisi terkontrol, seperti percobaan klinis, sementara efektivitas merujuk pada seberapa bagus obat tersebut bekerja dalam kondisi alami, seperti dalam klinik sehari-hari. Walaupun informasi efektivitas tidak selalu tersedia secara langsung, informasi ini biasanya bisa diekstrapolasi dari studi efikasi dan diproyeksikan ke situasi aktual.

Metoda Analisa farmakoekonomi 

          Setidaknya ada empat tipe Analisa yang umum digunakan dalam studi farmakoekonomi. Analisa-analisa ini akan dijelaskan secara detail di bagian-bagian yang berbeda dalam tulisan ini.

  1. Analisa manfaat-biaya (cost-benefit) merupakan perbandingan nilai moneter dari penggunaan alternatif dari sumberdaya. 
  2. Analisa efektivitas-biaya (cost-effectiveness) merupakan perbandingan dari biaya terhadap hasil dalam kaitannya dengan hasil kesehatan, seperti pengurangan tingkat LDL darah, atau dalam unit alami, seperti tahun-hidup yang didapat atau hilang. 
  3. Analisa utilitas-biaya (cost-utility) adalah pengukuran hasil dalam kaitannya dengan sebuah faktor kualitas. 
  4. Analisa minimisasi-biaya (cost-minimization) adalah perbandingan antara biaya ketika akibat-akibatnya diasumsikan sama. 

Analisa manfaat-biaya  

Analisa manfaat-biaya adalah Analisa perbandingan dari dua atau lebih produk atau jasa farmasi dengan manfaat (hasil terapi) dalam nilai moneter. Tujuan Analisa manfaat-biaya adalah untuk mencapai pengembalian investasi tertinggi. Hasil tipe Analisa ini ditampilkan dalam istilah manfaat bersih (net benefit), yang mengurangkan biaya dari manfaat; tingkat internal pengembalian (internal rate of return), yang mengurangkan biaya dari manfaat dan membagi hasilnya dengan biaya, atau rasio manfaat-biaya, seperti akan dijelaskan nanti. Analisa manfaat-biaya sangat berguna dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan alokasi sumberdaya untuk berbagai opsi penanganan atau program. Secara umum, rasio manfaat-biaya dikalkulasi menggunakan formula berikut: 

Jika rasio > 1, manfaat melebihi biaya dan produk atau jasa tersebut bermanfaat 
Jika rasio = 1, manfaat sama dengan biaya 
Jika rasio < 1, biaya lebih besar dibanding manfaat, dianggap tidak bermanfaat 

Sebagai contoh: 

Penanganan A berbiaya Rp. 10.000,- dan memberikan manfaat Rp. 20.000,

Penanganan B berbiaya Rp. 5.000,- dan memberikan manfaat Rp. 7.500,

Manfaat bersih penanganan A = Rp. 20.000 - Rp. 10.000 = Rp. 10.000,-, sementara 

Manfaat bersih penanganan B = Rp. 7.500 - Rp. 5.000 = Rp. 2.500,- 

Dengan demikian: 

                                                                Rp. 20.000,- 

Rasio manfaat-biaya penanganan A = -------------------- = 2:1 

                                                                Rp. 10.000,- 

                                                                Rp. 7.500,- 

Rasio manfaat-biaya penanganan B = -------------------- = 1,5:1 

                                                                 Rp. 5.000,- 

Karena kedua rasio menunjukkan hasil yang bermanfaat (>1), walaupun ada perbedaan manfaat pada kedua penanganan, penanganan yang akan dipilih bergantung pada metoda yang paling tepat untuk pertanyaan yang dimaksud. Secara umum, hasil dari ketiga persamaan di atas harus ditampilkan untuk memberikan tampilan yang lebih seimbang mengenai biaya dan manfaatnya. 

          Keuntungan analisa manfaat-biaya. Analisa manfaat-biaya bisa digunakan untuk membandingkan dua program penanganan yang tidak saling berhubungan dengan hasil yang berbeda secara nilai moneter. Masing-masing program dievaluasi secara terpisah untuk rasio manfaat-biaya-nya. 

        Kerugian analisa manfaat-biaya. Karena kita harus menempatkan nilai moneter pada setiap analisa, metoda ini mungkin cukup sulit untuk dilakukan, khususnya dalam kasus dimana kita harus memberikan nilai moneter pada manfaat yang dirasakan manusia, atau bahkan pada kehidupan itu sendiri. 

Analisa kefektivitasan-biaya 

        Tipe analisa ini mengukur hasil dalam unit kesehatan alami dari perbaikan kesehatan. Hasil dinyatakan dalam istilah biaya per unit perbaikan, seperti biaya per % penurunan LDL, biaya per mmHg penurunan tekanan darah, biaya per nyawa yang berhasil diselamatkan, dsb. Efektivitas-biaya bisa didefinisikan sebagai memiliki (10): 

  1. Biaya yang lebih rendah dan setidaknya sama efektifnya, atau 
  2. Biaya yang lebih tinggi, namun manfaat yang lebih tinggi yang layak bagi penambahan biayanya, atau
  3. Biaya yang lebih rendah dan manfaat yang lebih rendah, namun manfaat tambahannya tidak layak bagi penambahan biayanya. 

Ketika sebuah studi mendapati bahwa sebuah medikasi cost-effective, ini berarti bahwa medikasi tersebut secara biaya lebih efektif relatif terhadap satu atau lebih terapi alternatifnya. 

Berikut adalah contoh Analisa efektivitas-biaya: 

Obat A berbiaya Rp. 100.000,- dan memberikan 43 kasus yang berhasil ditangani secara sukses Obat B berbiaya Rp. 83.000,- dan memberikan 39 kasus yang berhasil ditangani secara sukses 

Efektivitas-biaya rata-ratanya adalah: 

                    Rp. 100.000,- 

Obat A = --------------------- = Rp. 2326,- / penanganan yang sukses 

                           43 kasus

                    Rp. 83.000,-

Obat B = --------------------- = Rp. 2128,- / penanganan yang sukses 

                           39 kasus

                                                Rp. 100.000 - Rp. 83.000 

Efektivitas-biaya marjinal = -------------------------------------- = Rp 4250,-/tambahan kasus 

                                                                43 - 39                                           kasus keberhasilan

 

Menilai berdasarkan data efektivitas-biaya, orang memilih Obat B dibanding Obat A karena bisa menghemat Rp. 198 per pasien. Disamping itu, jika kita lihat efektivitas-biaya marjinal, diperlukan tambahan Rp. 4250 untuk mendapatkan satu tambahan penanganan yang sukses dengan Obat A. Pengambil keputusan harus berpikir apakah biaya tambahan dari Obat A layak dikeluarkan untuk mendapatkan efektivitas tambahan. Sebagian besar ekonomis setuju bahwa Analisa efektivitas-biaya marjinal merupakan cara yang lebih tepat untuk menampilkan Analisa efektivitas-biaya. 

Keuntungan analisa keefektivitasan-biaya. Keuntungan utama tipe analisa farmakoekonomi ini adalah kemampuannya untuk membandingkan penanganan alternatif dan menentukan investasi terbaik jika manfaatnya tidak bisa dikurangi ke dalam nilai moneter. 

Kerugian Analisa kefektivitasan-biaya. Untuk bisa dibandingkan dengan Analisa ini, penanganan farmasi harus memiliki hasil yang sama. 

Analisa minimisasi-biaya 

Analisa minimisasi-biaya mencakup perbandingan dua atau lebih penanganan dengan ekuivalensi yang telah diasumsikan atau ditunjukkan dalam efikasi dan keamanan. Ini secara signifikan menyederhanakan Analisa, namun bisa muncul kontroversi mengenai hasilnya karena data yang bagus mengenai hasil tidak selalu sudah tersedia. Namun, Analisa minimisasi-biaya cocok digunakan untuk membandingkan agen-agen yang secara terapi adalah setara atau mengubah pengaturan dosis dari agen yang sama. 

Sebagai contoh: jika biaya penanganan dengan Obat A adalah Rp. 120.000,-, dan 

                   biaya penanganan dengan Obat B adalah Rp. 100.000,-, maka 

Biaya intervensi dengan Obat B < Biaya intervensi dengan Obat A 

Dengan mengasumsikan bahwa Obat A dan B memiliki efektivitas klinik yang sama Penerapan Analisa minimisasi-biaya mungkin mencakup pembandingan sebuah obat generik dengan obat bermerek, atau membandingkan obat yang digunakan dalam kondisi berbeda (misalnya inpatient vs. outpatient). Tipe Analisa ini memiliki kemungkinan aplikasi (aplikabilitas) yang terbatas karena hanya ada sedikit skenario dimana terdapat efektivitas yang benar-benar setara. 

Keuntungan Analisa minimisasi-biaya. Ini merupakan yang paling sederhana dibanding semua Analisa farmakoekonomi lainnya. 

Kerugian Analisa minimisasi-biaya. Semua hasil terapi haruslah setara, yang biasanya sulit untuk dilakukan. 

Analisa utilitas-biaya 

Analisa utilitas-biaya, sebuah perluasan dari Analisa efektivitas-biaya, merupakan metoda penyesuaian untuk kualitas hasil. Unit yang paling umum digunakan dalam melakukan Analisa utilitas-biaya adalah quality-adjusted-life-years (QALYs), yang menggabungkan kualitas dan kuantitas kehidupan. Hasilnya disesuaikan untuk kualitas dengan menggunakan nilai utilitas. Dalam kaitan ini, utilitas merepresentasikan preferensi yang dinyatakan untuk suatu kondisi kesehatan tertentu. Nilai utilitas berkisar dari 0 hingga 1 QALY, dengan 0 adalah kondisi kematian, dan 1 merepresentasikan kesehatan sempurna. Jika kualitas hidup yang terkait dengan kesehatan berkurang karena penyakit atau penanganan, satu tahun kehidupan dalam kondisi ini adalah kurang dari 1 QALY. Unit ini memungkinkan perbandingan antara kesakitan dan kematian. Contoh nilai utilitas kondisi kesehatan mencakup: kehidupan dengan kegagalan jantung yang parah, dengan nilai utilitas 0,25; kehidupan dengan gejala post-menopause, dengan nilai utilitas 0,80; kehidupan dengan rheumatoid arthritis, dengan nilai utilitas 0,50; dsb. Contoh berikut memberikan utiliti mengenai Analisa utilitas-biaya terhadap 3 obat antineoplastic yang berbeda

Penanganan dengan Obat X memberikan tambahan tiga tahun kehidupan dengan utiliti 0,6, mungkin karena efek samping yang luar biasa. Walaupun penanganan dengan Obat Y memberikan tambahan enam tahun kehidupan per pasien, utilitas-nya 0,4, yang bisa terjadi karena reaksi negatif yang kurang bisa ditolerasi terhadap obat ini. Obat Z berada di tengah-tengah di antara dua obat sebelumnya. Berdasarkan QALY yang didapat, Obat Y mungkin lebih dipilih dibanding Obat X dan Z. 

Penggunaan Analisa utilitas-biaya telah meningkat dalam tahun-tahun belakangan. Ini karena adanya penggunaan faktor utilitas, yang mencakup tahun kehidupan yang didapat dan kualitas kehidupan, dalam Analisa. Namun, kualitas studi ini sendiri harus terus-menerus diperbarui setiap waktu. Sebuah studi terbaru mengenai Analisa utilitas-biaya menunjukkan bahwa tidak hanya jumlah studi yang telah meningkat sejak tahun 1976 hingga 1997, juga kualitas studi telah memburuk selama periode ini (11). Penulis buku tersebut meminta dilakukan perbaikan lebih lanjut dalam kredibilitas Analisanya, dan kemungkinan dilakukannya proses pemeriksaan yang lebih baik sebelum studi semacam ini dilakukan (11). 

Keuntungan Analisa utilitas-biaya. Ini merupakan satu-satunya Analisa yang melibatkan kualitas kehidupan pasien. 

Kerugian Analisa utilitas-biaya. Tidak adanya standarisasi dalam melakukan studi mungkin mendorong pada inkonsistensi dalam penginterpretasian hasilnya. 

Kesimpulan 

Data farmakoekonomi bisa memberikan dukungan berarti untuk berbagai pemeriksaan institusional terhadap medikasi berdasarkan nilai ekonomisnya. Sejumlah keputusan yang bisa memberikan manfaat dari data farmakoekonomi mencakup manajemen formularium, keputusan penanganan pasien secara individu, kebijakan penggunaan medikasi, dan keputusan alokasi sumberdaya. Ini merupakan bidang yang relatif baru. Sebagian besar riset yang sedang dilakukan, dan metoda yang digunakan dalam evaluasi belum distandarisasi. Namun, dengan makin seringnya farmakoekonomi digunakan dalam evaluasi produk obat dan jasa, semakin penting bagi eksekutif perawatan kesehatan untuk memahami prinsip umum dari disiplin ini.

Referensi

  1. Raskati, K.L Essentials of Pharmacoeconomics, 2nd ed. Philadephia, P.A.: Lippincott Williams and Wilkins, 2014.
  2. Bootman, J.L., Townsend, R.J., and McGhan, W.F. Principles of Pharmacoeconomics, 2nd ed. Cincinnati, OH: Harvey Whitney Books Co, 1996.
  3. Bloom, B.S. Pharmacoeconomics for managed care pharmacists. Drug Ben. Trends 7(7): 15-38, 1995. 
  4. Kementrian Kesehatan Republik Indoensia. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. http://www.depkes.go.id/resources/download/jkn/buku-pegangan-sosialisasi-jkn.p df. Diakses tanggal 7 Januari 2016. 
  5. Kementrian kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Keehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional. http://www.jkn.kemkes.go.id/attachment/unduhan/PMK%20No.%2028%20ttg%20Pe doman%20Pelaksanaan%20Program%20JKN.pdf. Diakses tanggal 7 Januari 2016. 
  6. Arikian, S.R., Shannon, M.C., and Einarson, T.R. The demand for pharmacoeconomic research is on the rise. Medical Marketing and Media 27:60-67, 1992. 
  7. MacKinnon, G.E. Understanding Health Outcomes and Pharmacoeconomics. Burlington, M.A.: Jones & Bartlett Learning, 2011. 
  8. Drummond, M.F., O’Brien, B., Stoddart, G.L., and Torrance, G.W. Methods for the Economics Evaluation of Health Care Programmes, 1st ed. New York, NY: Oxford University Press, 1997. 
  9. Sanchez, L.A. Applied Pharmacoeconomics: Evaluation and use of pharmacoeconomics data from the literature. Am. J. Health-Syst. Pharm. 56:1630-1640, 1999.
  10. Doubilet P., Weinstein, M.C., McNeil, B.J. Use and misuse of the term “cost-effective” in medicine. N. Engl. J. Med. 314:253-256, 1986. 
  11. Neumann, P.J., Stone, P.W., Chapman, R.H., Sandberg, E. A., and Bell, C.M. The quality of reporting in published cost-utility analyses, 1976-1997. Ann. Intern. Med. 132: 964-972, 2000. 








Ilmu Resep

Pulvis

Pengertian 

Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Karena mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia, antasida, makanan diet dan beberapa jenis analgetik tertentu, pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur, keduanya untuk pemakaian luar. 

Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk 

Kelebihan

  • Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. - Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air.
  • Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding , sediaan padat lainnya. 
  • Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. 
  • Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. 
Kelemahan 

  • Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit, sepat, lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) 
  • Pada penyimpanan menjadi lembab 
Syarat – Syarat Serbuk : 

bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering, halus dan homogen. 

  1. Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu, campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus, hitung bobot isi rata-rata. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. 
  2. Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten, seperti laksan, antasida, makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. 
  3. Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh, agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. 
Derajat Halus Serbuk dan Pengayak 
Derajat halus serbuk dan pengayak dalam farmakope dinyatakan dalam uraian yang dikaitkan dengan nomor pengayak yang ditetapkan untuk pengayak baku, seperti yang tertera pada tabel dibawah ini. Tabel : Klasifikasi serbuk berdasarkan derajat halus (menurut FI. IV)


Keterangan. 
  1. Semua partikel serbuk melalui pengayak dengan nomor nominal tertentu. 
  2. Batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah ditentukan.

        Sebagai pertimbangan praktis, pengayak terutama dimaksudkan untuk pengukuran derajad halus serbuk untuk sebagian besar keperluan farmasi (walaupun penggunaannya tidak meluas untuk pengukuran rentang ukuran partikel) yang bertujuan meningkatkan penyerapan obat dalam saluran cerna. Untuk pengukuran partikel dengan ukuran nominal kurang dari 100 ml, alat lain selain pengayak mungkin lebih berguna. 

        Efisiensi dan kecepatan pemisahan partikel oleh pengayak beragam, berbanding terbalik dengan jumlah partikel termuat. Efektivitas pemisahan menurun cepat jika kedalaman muatan melebihi lapisan dari 6 partikel sampai 8 partikel. 

         Pengayak untuk pengujian secara farmakope adalah anyaman kawat, bukan tenunan. Kecuali untuk ukuran nomor 230, 270, 325 dan 400 anyaman terbuat dari kuningan, perunggu, baja tahan karat atau kawat lain yang sesuai dan tidak dilapisi atau disepuh. Dalam penetapan derajad halus serbuk simplisia nabati dan simplisia hewani, tidak ada bagian dari obat yang dibuang selama penggilingan atau pengayakan, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi. 


Jenis Serbuk 
  • Pulvis Adspersorius 
Adalah serbuk ringan, bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit.
Catatan. 
  1. Talk, kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani, Clostridium Welchii, dan Bacillus Anthracis. 
  2. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. 
  3. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. 
Contoh Pulvis Adspersorius. 
Zinci Undecylenatis Pulvis Adspersorius ( For. Nas ) 
Sulfanilamidi Pulvis Adspersorius ( Form. Ind ) 
Pulvis Paraformaldehydi Compositus ( Form. Ind ) 
Pulvis Salicylatis Compositus ( Form. Ind.) 
  • Pulvis Dentifricius 
Serbuk gigi , biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 %
  • Pulvis Sternutatorius 
Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung, sehingga serbuk tersebut harus halus sekali.
  • Pulvis Effervescent 
Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2, kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonat). 
Interaksi asam dan basa ini dalam air akan menimbulkan suatu reaksi yang menghasilkan gas karbondioksida. Bila kedalam campuran ini ditambahkan zat berkhasiat maka akan segera dibebaskan sehingga memberikan efek farmakologi dengan cepat. Pada pembuatan bagian asam dan basa harus dikeringkan secara terpisah. 
Cara Mencampur Serbuk 
Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk : 
  • Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. 
  • Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. 
  • Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. 
  • Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu. 
  • Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu.
Serbuk dengan bahan-bahan padat 
Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Seperti hal sebagai berikut : 
  • Serbuk halus sekali
Serbuk halus tidak berkhasiat keras 
Belerang. 
Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan, karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. 
Iodoform. 
Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). 
Serbuk sangat halus dan berwarna. 
Misalnya : rifampisin, Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang, maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen). 

 

Serbuk halus berkhasiat keras 
Dalam jumlah banyak. 
Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. 
Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ), dibuat pengenceran sbb. : 
  • Zat yang beratnya antara 10 mg-50 mg, contohnya : 
Luminal 35 mg 
Timbang luminal    50 mg 
Lactosa + carmin  450 mg + 
                              500 mg 
dari campuran ini kita ambil 35/50 x 500 = 350 mg 
  • Zat yang beratnya antara 1 mg- 10 mg, contohnya : 
Atropin Sulfas 4 mg 
Timbang Atropin Sulfas      50 mg 
Lactosa + carmin            2450 mg + 
                                        2500 mg 
dari campuran ini kita ambil : 4/50 x 2500 mg = 200 mg 50 
  • Zat yang beratnya antara 0,1 mg-1 mg, contoh 
Atropin Sulfat 0.3 mg. 
Untuk ini dilakukan pengenceran bertingkat sebagai berikut : 
Tingkat I 
timbang Atropin Sulfas 50 mg 
Lactosa + carmin         2450 mg + 
                                     2500 mg 
timbang dari campuran ini 3/50 x 2500 mg = 150 mg (mengandung Atropin Sulfas 3 mg)
Tingkat II 
timbang campuran I       150 mg 
Lactosa                       350 mg + 
                                   500 mg 
timbang dari campuran kedua ini : 0,3/3 x 500 mg = 50 mg  
bila diperlukan pengenceran ini dapat diteruskan menjadi tingkat-tingkat selanjutnya. 
  • Serbuk berbentuk hablur dan kristal  
Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain, zat digerus terlebih dahulu. Contoh : 
Serbuk dengan champora 
Champhora sangat mudah mengumpul lagi, untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. 
Serbuk dengan asam salisilat. 
Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. 
Serbuk dengan asam benzoat, naftol, mentol, thymol Dikerjakan seperti diatas. 
Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas, misalnya KI dan garam- garam bromida. Garam-garam yang mempunyai garam exiccatusnya, lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya.

Penggantiannya adalah sbb : 

Natrii Carbonas 50 % atau ½ bagian 

Ferrosi Sulfas 60 % atau 2/3 bagian 

Aluminii et Kalii Sulfas 67 % atau 2/3 bagian 

Magnesii Sulfas 67 % atau 2/3 bagian 

Natrii Sulfas 50 % atau ½ bagian 

Serbuk dengan bahan setengah padat 
Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae, cera flava, cera alba, parafin padat, vaselin kuning dan vaselin putih. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air, baru dicampur dengan zat tambahan. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter, baru ditambah zat tambahan. 
Serbuk dengan bahan cair 
  • Serbuk dengan minyak atsiri 
Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara, yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi, kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. 
  • Serbuk dengan tinctura 
Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura, Digitalis Tinctura, Aconiti Tinctura, Belladonnae Tinctura, Digitalis Tinctura, Ratanhiae Tinctura. Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0, untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti, sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. 
Zat berkhasiat dari tinctur menguap, pada umumnya terbagi menjadi 2 : 
  • Tinctur yang dapat diambil bagian-bagiannya. 
Spiritus sebagai pelarutnya diganti dengan zat tambahan. Contohnya Iodii tinc. Camphor Spiritus, Tinc. Opii Benzoica 
  • Tinctur yang tidak dapat diambil bagian-bagiannya. 
Kalau jumlahnya banyak dilakukan pengeringan pada suhu serendah mungkin, tapi kalau jumlahnya sedikit dapat ditambah langsung kedalam campuran serbuk. Kita batasi maksimal 4 tetes dalam 1 gram serbuk. Contohnya Valerianae Tinc. Aromatic Tinc.

Serbuk dengan extractum

  • Extractum Siccum (ekstrak kering) 

Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Contohnya Opii extractum, Strychni extractum 

  • Extractum Spissum (ekstrak kental) 

Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak, kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Contohnya Belladonnae extractum, Hyoscyami extractum. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Extrak Filicis dengan eter. 

  • Extractum Liquidum (ekstrak cair) 

Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Contohnya Rhamni Purshianae ext, Ext. Hydrastis Liq. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya.

Serbuk dengan tablet atau kapsul 

Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg, dapat juga diambil Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. 

Cara Pengemasan Serbuk 

Secara umum serbuk dibungkus dan diedarkan dalam 2 macam kemasan yaitu kemasan untuk serbuk terbagi dan kemasan untuk serbuk tak terbagi. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). 

Kemasan untuk serbuk terbagi 

Pada umumnya serbuk terbagi terbungkus dengan kertas perkamen atau dapat juga dengan kertas selofan atau sampul polietilena untuk melindungi serbuk dari pengaruh lingkungan. Serbuk terbagi biasanya dapat dibagi langsung (tanpa penimbangan ) sebelum dibungkus dalam kertas perkamen terpisah dengan cara seteliti mungkin, sehingga tiap-tiap bungkus berisi serbuk yang kurang lebih sama jumlahnya. Hal tersebut bisa dilakukan bila prosentase perbandingan pemakaian terhadapdosis maksimal kurang dari 80 %. Bila prosentase perbandingan pemakaian terhadap DM sama dengan atau lebih besar dari 80 % maka serbuk harus dibagi berdasarkan penimbangan satu per satu.   

Pada dasarnya langkah-langkah melipat atau membungkus kertas pembungkus serbuk adalah sebagai berikut : 

  1. Letakkan kertas rata diatas permukaan meja dan lipatkan ½ inci kearah kita pada garis memanjang pada kertas untuk menjaga keseragaman, langkah ini harus dilakukan bersamaan dengan lipatan pertama sebagai petunjuk. 
  2. Letakkan serbuk baik yang ditimbang atau dibagi-bagi ke tengah kertas yang telah dilipat satu kali lipatannya mengarah keatas disebelah seberang dihadapanmu. 
  3. Tariklah sisi panjang yang belum dilipat keatas dan letakkanlah pada kira kira garis lipatan pertama , lakukan hati-hati supaya serbuk tidak berceceran. 
  4. Peganglah lipatan dan tekanlah sampai menyentuh dasar kertasdan lipatlah kehadapanmu setebal lipatan pertama. 
  5. Angkat kertas, sesuaikan dengan ukuran dos tempat yang akan digunakan untuk mengemas, lipat bagian kanan dan kiri pembungkus sesuai dengan ukuran dos tadi. Atau bila pengemasnya plastilk yang dilengkapi klip pada ujungnnya usahahan ukuran pembungkus satu dengan yang lainnya seragam supaya tampak rapi. 
  6. Kertas pembungkus yang telah terlipat rapi masukkan satu persatu dalam dos atau plastik klip. Pada lipatan kertas pembungkus tidak boleh ada serbuk dan tidak boleh ada ceceran serbuk. 
Kemasan untuk serbuk tak terbagi 

Untuk pemakaian luar, serbuk tak terbagi umumnya dikemas dalam wadah kaleng yang berlubang-lubang atau sejenis ayakan untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Misalnya bedak tabur. 

Sedangkan untuk obat dalam, serbuk tak terbagi biasa disimpan dalam botol bermulut lebar supaya sendok dapat dengan mudah keluar masuk melalui mulut botol. Contohnya serbuk antacid, serbuk laksativa. 

Wadah dari gelas digunakan pada serbuk yang mengandung bahan obat higroskopis / mudah mencair, serbuk yang mengandung bahan obat yang mudah menguap. Untuk serbuk yang komponennya sensitif terhadap cahaya menggunakan wadah gelas berwarna hijau atau amber.


Botani

SIMPLISIA DARI PHYCOPHYTA, MYOPHYTA  DAN MYCOPHYTA


AGAR

Nama lain    :    

Agar – agar, Gelosa, Vegetable gelatin. 

Tanaman asal

Gelidium cartilagenium (L)

Gracilaria confervoides (L) 

Sejenis ganggang merah 

Keluarga

Gelidiaceae 

Sphaerococcaceae 

Kelas : Rhodophyceae 

Zat berkhasiat utama / Isi : 

Garam kalsium dari gelosa, yaitu hidrat arang kompleks yang tersusun dari rangkaian galaktosa dimana molekul yang terakhir berikatan dengan asam sulfat, iodium 

Persyaratan kadar : 

20 – 100 bagian per juta 

Penggunaan : 

Karena mampu mengisap dan mengikat air, sehingga dalam usus berfungsi sebagai pelumas dan penambah isi usus, maka banyak dipakai pada pengobatan sembelit yang kronis. Juga sebagai bahan penolong pada berbagai sediaan obat. 

Pemerian : 

Umumnya berupa berkas potongan – potongan memanjang yang tipis seperti selaput dan berlekatan atau berbentuk keping, serpih / butiran, abu – abu kekuningan sampai kuning pucat atau tidak berwarna, tidak berbau atau berbau lemah, rasa berlendir, jika lembab liat, jika kering rapuh. 

Bagian yang digunakan : 

Koloidal hidrofil yang kering yang diperoleh dari penyarian.

Cara panen : 

Cara California : 

Ganggang direndam air, dibersihkan dari pasir dan kotoran lainnya, direbus dengan 2 tekanan, disaring selagi masih panas, sari dimasukkan ke dalam tabung – tabung pendingin, gudir yang terjadi digerus, dibekukan dan dipisahkan dari air dinginnya secara disaring hampa berputar, pengeringan selanjutnya dilakukan dengan mengalirkan udara panas. 

Cara Jepang : 

Ganggang yang dipelihara di dekat pantai dikeringkan,dipukul – pukul untuk memisahkan pasir, kerang dan kotoran lainnya, berganti – ganti dicuci dan dijemur sampai pucat warnanya, kemudian disari agarnya 

Cara Australia : 

Ganggang dibersihkan dari pasir dan dikelantang, direbus pada suhu 94o – 98o selama 2 – 4 jam sebagai larutan 4% dan pH dibuat 5 - 6, bagian – bagian yang padat dipisahkan secara pemusingan dan cairan yang telah jernih dicuci dengan norit, dikentalkan, didiamkan, kotoran – kotoran organik dibilas dengan aliran air dan dikeringkan pada suhu 40०– 50० . 

Jenis - jenis : 

Agar Sailan, dibuat dari Gracilaria lichenoides (Graville) Agar Makasar, dibuat dari Eucheuma spinosum (Ag) tercampur dengan garam dapur. Agar Amerika, agar pantai di Pasifik diperoleh dari ganggang Gelidium cartilagenium, Gelidium amansii, Anhfeltia plicata. Agar Pantai Atlantik, diperoleh dari Gracilaria confervoides, Hypnea muciformis dan ganggang merah lainnya. Agar Jepang, dibuat dengan nama Japanese Isinglass, diperoleh dari Gelidium cartilagenium, dan Gloiopeltis tenax. Agar Australia, dari Gracilaria confervoides dan Sphaerococcus compressus (Ag). 

Penyimpanan : 

Dalam wadah tertutup baik. 

 

SACCHAROMYCES SICCUM 

Nama lain : 

Ragi kering, Dry yeast 

Tanaman asal : 

Saccharomyces cerevisiae (Meyen) atau Candida utilis (Hannegeng) 

Keluarga : 

Ascomycetes 

Zat berkhasiat utama / Isi : 

Vitamin dan putih telur. 

Penggunaan : 

Sumber vitamin B komplek dan zat putih telur. 

Bagian yang digunakan : 

Ragi yang diperoleh dari biakan pilihan. 

Cara panen : 

Ragi yang berasal dari pabrik bir disebut ragi bir kering, dan apabila telah dihilangkan rasa pahitnya disebut ragi bir kering tidak pahit. Ragi yang berasal dari kultur dengan media yang serasi disebut ragi utama kering. 

Keterangan : 

10 gram ragi setara dengan 35 kalori; 4,6 gram protein nabati; 0,2 gram lemak; 3,7 gram hidrat arang; 11 mg kalsium; 189 mg fosfor anorganik dan 1,8 mg besi. 


SECALE CORNUTUM 

Nama lain : 

Sekale kornutum, Gandum Induk, Mother of Rye, Ergot, Horn Seed. 

Tanaman asal : 

Claviseps purpurea *, Secale cereale ** Keluarga : Hypocreaceae *, Poaceae ** 

Zat berkhasiat utama / Isi : 

  • Alkaloida, terbagi 3 golongan: 

  1. Ergotamina (ergotamina, ergotaminina, ergosinina). 
  2. Ergotoksina (ergokristina, ergokriptina, ergokornina, ergokristinina, ergokriptinina, ergokomina). 
  3. Ergobasina, (ergobasina / ergonivina, ergobasinina, ergonovinina.

  • Tiramina, histamina, ergotionina dan glikokolbetaina. 
  • Lemak terdiri dari trioleinat, trioksileinat dan fitosterin, lesitin, ergosterin, asam sfaselin, manit, trehalosa dan mineral utama asam fosfat. 
Persyaratan kadar : 

  • Kadar alkaloida jumlah dihitung sebagai ergotoksina tidak kurang dari 0,2%;
  • Kadar alkaloida yang larut dalam air dihitung sebagai ergometrina (ergonovina) tidak kurang dari 0,03%. 
Penggunaan : 

Semua alkaloida – alkaloida ini menyebabkan kontraksi otot polos terutama otot uterus. Jika dosis lebih besar maka juga menguncupkan otot saluran kemih, usus dan pembuluh darah 

Pemerian : 

Bau dan rasa tidak enak 

Bagian yang digunakan : 

Sklerotium dari Claviseps purpurea yang tumbuh dalam buah Secale cereale 

Sediaan :

  1. Ergometrini maleas ( FI ) untuk : Ergometrini Compressi (F.N); Ergometrini Injectio (F.N) 
  2. Ergotamini Tartras ( FI ) untuk : - Ergotamini Injectio (F.N); Ergotamini Compressi (F.N); Ergotamini Solutio (F.N); Coffeini Ergotamini Pulveres (F.N) 
  3. Secalis Cornuti Pulvis (FI) 
  4. Secalis Cornuti Extractum (FI), untuk Secalis Guttae (F.N) 
  5. Secalis Cornuti Tinctura (FI) 
Penyimpanan : 

Dalam keadaan utuh ditempat sejuk dan kering. 


USNEA THALLUS 

Nama lain : 

Kayu angin, Linchen Dasypogus 

Tanaman asal : 

Usnea misaminensis (Vain) Not, Usnea dasypoga (Acharius) atau Usnea sp. 

Keluarga : 

Usneaceae 

Zat berkhasiat utama / Isi : 

Asam urat, zat pahit, hidrat arang 

Penggunaan : 

Astringen, obat sakit perut, anti septik 

Pemerian : 

Bau lemah, rasa pahit 

Bagian yang digunakan : 

Seluruh thallus, berbentuk benang, pada umumnya bulat memanjang, bercabang – cabang berwarna abu – abu sampai biru kehijauan pucat.